Inilah Pesona Kota Bukittinggi Yang Harus Tetap Di Jaga


Mukena Sulam Khas Bukittinggi – Kota Bukittinggi, dengan pemandangan alam dan sejarahnya yang melekat erat, terus menyimpan pesona yang menjadi daya tarik wisata. Kini, di tengah kian banyaknya pilihan tujuan wisata di Sumatera Barat, Kota Bukittinggi tak sendiri. Keberlanjutan daya tarik ini bergantung kepada pemerintah dan warga dalam mengelolanya.

Pesona Kota Bukittinggi

Kota terbesar kedua di Sumbar setelah Kota Padang ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa pemerintahan darurat. Di kota ini pula, proklamator Mohammad Hatta lahir. Rumah kelahirannya masih ada dan menjadi museum yang selalu didatangi pengunjung.

Tak jauh dari pusat kota, terdapat Ngarai Sianok, lembah yang di tengahnya mengalir Batang (sungai) Sianok. Pemandangan menakjubkan Ngarai Sianok dapat dilihat pada pagi hari dari puncak bukit Janjang Saribu atau bagian atas dari kawasan lubang Jepang.

Keindahan itu sayangnya mulai terganggu dengan sampah yang berserakan di sungai dan di jalan setapak yang dibangun pemerintah. Janjang Saribu (seribu tangga) yang diperbaiki dan dilengkapi dengan lampu bertenaga surya juga dirusak. Lampu dan aki untuk menyimpan energi listrik hilang dicuri.

Roni Fazilla (26), warga Bukittingi yang berjualan di Janjang Saribu, juga menyayangkan hal itu. ”Sejak dibenahi pemerintah provinsi tahun lalu, nyaris tidak ada perawatan atau penjagaan. Banyak lampu hilang, padahal sebelumnya bagus sekali kalau malam,” ujarnya.

Di lembah, terutama di sekitar Batang Sianok, juga mulai menjamur warung makan yang membelakangi sungai. Jika tidak diatur, pertumbuhan bangunan ini tentu akan merusak keindahan Ngarai Sianok.

Kota wisata

Bukittinggi, yang mencanangkan diri sebagai Kota Wisata sejak 11 Maret 1984, banyak berkembang. Sepuluh tahun pertama merupakan masa euforia. Segala bentuk pembangunan di bidang pariwisata, seperti hotel dan penginapan, amatlah pesat. Kunjungan wisatawan mencapai 266.694 orang per tahun.

Meski pernah menurun saat krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998, kunjungan wisatawan ke Bukittinggi terus menanjak. Tahun 2009, misalnya, jumlah kunjungan wisata mencapai 306.413 orang dan tahun 2014 jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang datang mencapai 455.113 orang.

Kunjungan wisata yang luar biasa ini terasa ketika akhir pekan atau musim liburan. Jalur menuju pintu masuk kota sering kali macet oleh kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang akan ke Bukittinggi. Selain itu, wisatawan yang datang dan berencana menginap, tetapi tanpa memesan kamar hotel lebih dulu, dapat dipastikan kesulitan mencari kamar hotel yang kosong. Padahal, saat ini sudah ada 70 hotel, baik berbintang maupun kelas melati, di kota itu.

Namun, Bukittinggi jangan lengah. ”Kini Bukittinggi bukan lagi pemain tunggal. Wilayah lain, seperti Padang Panjang dan Sawahlunto, juga mengembangkan pariwisata. Apalagi dengan adanya kegiatan balap sepeda Tour De Singkarak, daerah tujuan wisata lain di Sumbar terus bermunculan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi Melfi Ebra.

Oleh sebab itu, Bukittingi harus lebih serius menggarap sektor ini. Sadar wisata, baik dari pemerintah, mitra kerja, pelaku yang bergerak di bidang perhotelan, kuliner, oleh-oleh, dan sanggar seni budaya, maupun warga mutlak diperlukan. Jika tidak, keberlangsungan sektor yang menyumbang 62 persen pendapatan asli daerah (PAD) Bukittinggi ini akan terganggu.

Pemerintah Kota Bukittinggi kini menyiapkan konsep community based tourism atau pembangunan pariwisata berbasis masyarakat. Hal itu adalah bagian dari pembangunan pariwisata pada dekade keempat di Bukittinggi, selain pembangunan fisik dan pembangunan hubungan dengan mitra kerja.

Ruang pertunjukan disediakan secara gratis bagi sekolah, perguruan tinggi, sanggar, serta komunitas di kawasan Medan nan Bapaneh Taman Panorama dan Lobang Jepang setiap Sabtu dan Minggu. Pengelolaan pariwisata oleh badan pengelola juga didorong karena sejumlah tempat wisata, seperti Ngarai Sianok, Great Wall Koto Gadang, dan Janjang Saribu, berada di tanah ulayat milik masyarakat.

”Kami ingin setiap tahap pengelolaan pariwisata dipahami oleh semua pemangku kepentingan, khususnya masyarakat. Mereka harus sadar, kota ini bisa hidup dari pariwisata,” tambah Melfi.

Penataan kota

Penataan kota menjadi pekerjaan rumah pemkot. Jam Gadang yang dirancang arsitek Yazid Abidin atau Angku Acik dari Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, meski masih menjadi magnet utama wisatawan, tetap tampak semrawut. Banyak pedagang makanan, mainan, dan kaus sepanjang hari bertebaran di area yang seharusnya steril dan kerap mendesak wisatawan.

Fasilitas parkir juga tidak memadai. Pemkot sudah membangun gedung parkir, tetapi belum dimanfaatkan maksimal. Akibatnya, setiap akhir pekan, kendaraan parkir di badan jalan dan menyebabkan kemacetan.

”Parkir tidak dikelola dengan baik. Warga dari wilayah terdekat Bukittinggi yang sering kesini merasa tak nyaman. Selain tempatnya terbatas, tukang parkir hampir ada di semua tempat. Biaya parkirnya juga mahal,” kata Marlin (57), warga Baso, Kabupaten Agam, Sumbar, yang beraktivitas di Bukitinggi.

Harga makanan dan barang juga sering menjadi sorotan. Tidak ada label harga membuat banyak wisatawan terjebak. ”Banyak tamu dari Malaysia yang dahulu ke Bukittinggi mulai beralih ke Bandung, Jawa Barat. Alasannya, harga barang di sana jelas. Di sini, sepertinya mereka tertipu saat belanja karena tak ada standar harga. Di toko A harga satu barang bisa Rp 200.000, tetapi ketika masuk ke toko B, mereka menemukan harga barang yang sama bisa setengahnya,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bukittinggi Syafroni Falian.

Syafroni menilai, berbagai kondisi itu lahir tak lain karena selama ini perencanaan pariwisata Bukittinggi tak matang. Seringnya pergantian pucuk pimpinan di dinas membuat program pengembangan pariwisata tak pernah optimal.

Meski demikian, jelas Syafroni, pelibatan masyarakat secara penuh harus dilakukan. Itu untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata yang menjadi bagian penting pembangunan Bukittinggi.

”Kami dari PHRI, sebagai salah satu pelaku di sektor ini, juga terus berusaha memastikan semua anggota memberikan pelayanan terbaik kepada tamu. Tentu itu tak cukup karena masyarakat juga harus berpikir dan melakukan hal yang sama,” tambah Syafroni.

Syafroni menilai, tiga dekade berlabel Kota Wisata seharusnya membuat Bukittinggi lebih dewasa mengelola potensinya. Jika tidak, lambat laun wisatawan akan lebih tertarik untuk datang ke obyek wisata lain selain di Kota Bukittinggi.

sumber: kompas.com

Tags: , , ,