Inilah Beda Nasi Padang Dengan Nasi Kapau


Mukena Sulam Khas Bukittinggi – Kapau Uni Cah, sesuai nama rumah makannya, pemiliknya memang bernama Uni Cah (60). Di rumah makan dari perempuan yang mempunyai empat anak ini, Anda bisa menyantap beragam menu khas Kapau. Menu rumah makan maupun kedai nasi Kapau sedikit berbeda dari rumah makan Padang, baik secara proses memasak maupun penyajiannya.

Nasi Kapau

Sudah tahu, perbedaan Rumah Makan Padang dan Kedai Nasi Kapau? Rumah makan Padang dan kedai nasi Kapau memiliki menu khas seperti gulai sayur nangka yang biasanya terdiri dari nangka muda, kol, dan rebung.

Menariknya, di rumah makan Padang, sayuran ini dipotong-potong kecil-kecil, sementara pada menu nasi Kapau, sayuran disajikan utuh. Kol, misalnya, disajikan selembar utuh, sementara kacang panjang hanya dibagi 2-3 potong per lonjor.

Menu lain yang menjadi ciri khas nasi Kapau adalah gulai usus sapi yang berisi campuran tahu dan telur ayam yang sudah dihaluskan. Bumbu di rumah makan Padang umumnya ditumis, sementara di rumah makan Kapau tak ada yang ditumis.

“Bumbu di nasi Kapau tidak ‘makan’ minyak. Kalau orang yang tahu, pasti bisa membedakan keduanya,” ujar Uni Cah yang memiliki nama asli Nafsah.

Ia mulanya berjualan nasi Kapau di kaki lima di Pasar Aur Kuning, Bukittinggi, pada 1981. Saat itu, karena keterbatasan modal, kedainya tak menyediakan meja makan. Seperti khas nasi Kapau pada umumnya, setiap menu diletakkan di baskom-baskom besar yang ditata secara berundak di depan penjual.

Ketika pembeli memesan, penjual akan mengambil lauk-pauk dengan sendok sayur bergagang kayu panjang, sehingga bisa menjangkau lauk yang letaknya agak jauh dari jangkauan tangan. Para pembeli biasanya bersantap di depan atau samping menu yang ditata tersebut dengan menggunakan tangan.

Dibantu anak-anak dan suaminya, Uni Cah belajar memasak secara otodidak. Ia memilih memasak menu sedikit demi sedikit, sehingga pembeli selalu mendapatkan masakan yang baru setiap hari.

Rasa masakannya yang lezat di lidah membuat kedainya selalu laris didatangi banyak pengunjung, termasuk dari luar kota. Maklum, Pasar Aur Kuning sehari-harinya menjadi pusat grosir busana seperti Tanah Abang di Jakarta. Tak sedikit pula petani yang sedang menjual hasil buminya di sana menjadi pelanggan Uni Cah.

Nama Uni Cah makin terkenal berkat promosi dari mulut ke mulut. Tak heran, meski hanya berupa warung tenda di kaki lima, pegawainya mencapai 15 orang. Usahanya pun makin meningkat sehingga pada 2002 ia bisa memindahkan usahanya ke sebuah ruko yang dikontraknya di Pasar Aur Kuning.

Lantaran ruko itu dijual pemiliknya, tiga tahun kemudian seiring pertumbuhan usahanya, Uni Cah memindahkan usahanya ke sebuah rumah makan yang cukup luas di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Kala itu, jalanan itu masih sepi dilalui orang. Namun, menu nasi Kapaunya tetap diburu pelanggan sehingga makin lama usahanya makin maju dan bertahan hingga sekarang.

“Yang terkenal dari masakan saya adalah rendang ayam, gulai tunjang dan usus,” ujar Uni Cah yang juga menyediakan menu ikan bertelur.

Di antara bumbu rendang yang lezat dan berwarna gelap, terselip pula dakak-dakak alias potongan singkong berukuran kecil yang membuat rendang terasa renyah. Sejak awal hingga sekarang, Uni Cah berbelanja dan memilih sendiri bahan bakunya agar kualitas tetap terjaga. Ia juga membuat bumbu dan memasak sendiri. Pagi pukul 09.00-22.00, rumah makannya siap melayani pembeli.

Ia tak menyangka, setahun setelah pindah ke lokasi ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang bersantap di sana bersama rombongannya. “Selain presiden, ada juga menteri-menteri serta wisatawan mancanegara. Kalau ada artis yang konser di Padang, biasanya juga makan di sini,” tuturnya sambil menambahkan, tak jarang pula ia mendapat pesanan untuk acara kenduri atau pernikahan.

Sehari-hari, ia dibantu dua anaknya mengelola rumah makan yang tak membuka cabang ini. Diakuinya, harga menu di rumah makannya lebih mahal dibanding tempat lain.

“Tapi di sini ikannya lebih besar, irisan lauknya juga begitu. Kalau diramaskan atau dicampur langsung di piring, sayurnya gratis,” ujarnya.

Harga menu di rumah makannya paling murah sekitar Rp 35.000, yaitu tunjang atau ayam, sedangkan ikan bakar bisa mencapai Rp 60.000 per ekor. Kalau sedang libur panjang atau Lebaran, rumah makannya tak pernah sepi pengunjung, termasuk dari berbagai kota seperti Medan, Jambi, Jakarta, dan Pekanbaru.

sumber: kompas.com

Tags: , ,